Jelaskan hubungan antara kesultanan banten dan kerajaan pajajaran * 20 poin

Jakarta -

Selamat hari ulang tahun kota Jakarta. Tim detikcom pernah memproduksi video soal sejarah kota Jakarta yang dirilis pada 21 Juni 2020. Sejarah kota Jakarta sendiri berawal dari bandar tua bernama Sunda Kelapa, yang berganti menjadi Jayakarta oleh Fatahillah, mengalami perluasan wilayah saat bernama Batavia di era kolonial, menjadi Jakarta Tokubetsu Shi pada masa Jepang dan dikukuhkan menjadi Jakarta secara resmi pada tahun 1949.

Hari ulang tahun Jakarta yang jatuh tiap tanggal 22 Juni tidak lepas dari peristiwa perebutan Sunda Kelapa yang dilatari perebutan pengaruh jaringan perdagangan di wilayah pantai utara pulau Jawa yang terjadi pada 494 tahun lalu. Dua koalisi yang terlibat dalam peristiwa itu adalah kerajaan Sunda Pajajaran yang masih bercorak Hindu yang bekerja sama dengan Portugis, dan kekuatan Islam yakni Kesultanan Demak dan Kesultanan Cirebon

Pada awal abad ke-16, Jakarta kala itu masih bernama Kalapa atau dikenal dengan pelabuhan Sunda Kelapa yang terletak di muara sungai Ciliwung dan menjadi pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran. Sejarawan Universitas Indonesia, Bondan Kanumoyoso, menceritakan peristiwa perebutan bandar Sunda Kelapa itu dilatari persaingan antara kekuatan Islam dengan kekuatan non-Islam.

"Jadi jaringan perdagangan islam yang ada di nusantara terutama di Jawa ingin mengamankan seluruh daerah pantai utara Jawa dari kemungkinan kedatangan kekuatan yang bisa berpotensi membahayakan kekuatan Islam," ujar Bondan.

Saat itu, Sunda Kelapa sendiri dinilai merupakan pelabuhan yang strategis di pulau Jawa. Pasalnya, lokasi Sunda Kelapa berdekatan dengan Selat Sunda dan Selat Malaka yang bisa menghubungkan nusantara ke Samudera Hindia.

"Karena itu Sunda Kelapa memiliki arti yang sangat penting, karena Banten ketika itu belum berkembang menjadi pelabuhan besar. Dan karena itulah kemudian Sunda Kelapa harus jadi kota pelabuhan yang dikuasai pedagang muslim kalau ingin kegiatan perdagangan Islam di nusantara tetap bisa berkembang dan terhubung dengan dunia maritim di samudera Hindia, karena dia adalah pintu masuk yang dekat dengan selat Sunda," ujar dosen Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia tersebut.

Bondan menyatakan saat itu kerajaan Pajajaran yang berpusat di wilayah Pakuan (Bogor) atau di pedalaman pulau Jawa bagian barat memiliki kontak hubungan dengan kekuatan yang ada di luar pulau Jawa, yakni Portugis yang pada tahun 1511 menguasai Malaka. Pajajaran yang juga merasa terancam dengan berkumpulnya jaringan perdagangan Islam di Jawa bagian tengah melihat Portugis bisa menjadi kekuatan yang membantu mereka menahan laju kekuatan Islam.

"Malaka ini adalah emporium, kota dagang besar yang menjadi pusat dari kegiatan perdagangan Islam di nusantara. Dengan dikalahkannya Malaka oleh Portugis, maka Pajajaran itu melihat bahwa Portugis inilah kekuatan selain muslim yang bisa mempertahankan eksistensi mereka di pedalaman Jawa Barat," ujar Bondan.

Dikutip dari buku "Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta" karangan ahli sejarah kota Jakarta, Adolf Heuken SJ, pada 1522, perjanjian antara Sunda dengan Portugis terjalin setelah seorang Portugis, Enrique Leme, mengunjungi Sunda Kelapa dengan membawa hadiah bagi Raja Sunda yang disebut Samiam atau Sangiang (lafal Portugis untuk Sang Hyang), yakni Raja Surawisesa.

Kemudian pada tanggal 21 Agustus 1522 suatu perjanjian persahabatan antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Portugal dijalin. Dalam tulisannya, Heuken menyebut Perjanjian ini menjadi perjanjian internasional pertama di Indonesia. Sebagai tanda perjanjian tersebut, sebuah batu besar yang dinamakan batu Padrao ditanam di pantai, sebagai tugu peringatan akan perjanjian.

Dalam perjanjian itu, orang Portugis mendapat izin untuk mendirikan sebuah gudang dan benteng di tepi Ciliwung. Sedangkan Pajajaran memandang kehadiran Portugis akan memperkokoh posisi mereka dalam urusan perdagangan terutama lada, dan juga dalam menghadapi tentara Islam dari Kesultanan Demak, yang kekuatannya sedang naik daun di Jawa Tengah.

Menurut Heuken, raja Pajajaran ingin sekali bersahabat dengan pelaut Portugis. Ia merasa terancam oleh Kesultanan Demak yang ekspansif, karena sudah merebut kota pelabuhannya yang kedua, yakni Banten. Sunda merasa terhimpit dan membutuhkan sekutu yang kuat.

Namun, perjanjian Sunda-Portugis itu juga kemudian mencemaskan Sultan Trenggana dari Demak. Maka, pada tahun 1527, Sultan Trenggana mengutus Fatahillah mengancam Kalapa dengan 1.452 orang tentara. Heuken menulis Fatahillah merupakan panglima pasukan Cirebon yang sebelumnya pada 1525/1526 ikut merebut atau bahkan memimpin serangan atas Banten.

Lebih lanjut, Bondan menyatakan Fatahillah bersama gabungan pasukan Islam relatif mudah menguasai Sunda Kelapa karena pihak Pajajaran masih dalam persiapan membangun pertahanan dan kerjasama dengan Portugis belum sempat terealisasi. Pasalnya, penyerangan itu terjadi sebelum tahapan pendirian benteng dan kerjasama militer antara Sunda-Portugis.

Saat kapal Portugis menghampiri Sunda Kelapa untuk melaksanakan kesepakatan, mereka belum mengetahui adanya pergantian kekuasaan di Sunda Kelapa.

"Jadi ketika mereka datang mereka ga tahu tuh kota pelabuhan sudah diduduki kekuatan Islam. Dan ini yang menyebabkan Portugis dengan mudah dipukul mundur. Kan mereka ga tahu, ini yang berkuasa di Sunda Kelapa siapa? Apakah dulu yang mengikat perjanjian atau bukan? Kan mereka ga kenal, mungkin ketika melihat orang-orangnya sama saja, orang-orang Indonesia, ya mereka anggap sama aja, lalu tiba-tiba diserang," jelas Bondan.

Setelah peristiwa itu, Fatahillah kemudian menjadikan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Islam dan menjadi rangkaian jaringan perdagangan Islam yang ada di pantai utara Jawa.

"Dengan berkuasanya kekuatan Islam kota Pelabuhan itu otomatis menjadi pelabuhan muslim, jadi itu merupakan rangkaian jaringan perdagangan muslim yang ada di pantai utara Jawa. Dan dengan itu, kerajaan Pakuan Pajajaran kehilangan aksesnya ke pesisir dan itu terputusnya mereka dengan dunia luar yang menyebabkan kekuatan Pakuan Pajajaran runtuh. Ini sekitar pertengahan abad ke-16, tahun 1527. Itu yang terjadi," ujarnya.

Sejumlah versi menyebut, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang berarti "kemenangan yang sempurna." Meski demikian, Adolf Heuken menulis tidak ada dokumen yang menyebut pergantian nama menjadi Jayakarta. Menurutnya, nama Jakarta baru muncul dalam dokumen yang ditulis pada 1560 oleh Joao de Barros dalam Da Asia yang terbit pada tahun 1615.

Sementara itu, Bondan Kanumoyoso menyatakan kisah perubahan nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta masih menjadi kontroversi. Sebagai sejarawan, ia sendiri mengaku belum mendapat catatan sejarah yang memuaskan kenapa nama Jayakarta yang berasal dari bahasa sansekerta dipilih meski sudah berganti penguasa dan menjadi pelabuhan Islam.

"Jadi agak meragukan sebetulnya, apa yang sebetulnya terjadi ini perlu di cek. Kenapa kota itu masih dinamakan nama sanskrit, yang berbau pengaruh Hindu. Padahal penguasanya adalah Islam. Saya sendiri belum menemukan penjelasan yang cukup memuaskan ya. Mungkin harus riset tersendiri mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi kenapa dinamakan Jayakarta, karena Jayakarta itu bahasa sanskrit dan bukan bahasa Arab," jelas Bondan.

Sementara terkait tanggal lahir kota Jakarta, Bondan menyatakan hal itu ditetapkan berdasarkan keputusan politik pemerintah kota Jakarta setelah Indonesia merdeka. Pemilihan 22 Juni 1527 sebagai hari lahir Jakarta diresmikan Wali Kota Jakarta Sudiro pada 1956 dan mengacu pada satu peristiwa di bandar tua bernama Sunda Kelapa ratusan tahun silam.

Simak Video "Pertempuran di Balik Hari Lahir Jakarta"



(hnf/hnf)

Makam Sultan Banten Maulana Yusuf. (G.F.J. Bley/Tropenmuseum).

Kerajaan Pajajaran didirikan pada 1333 oleh beberapa bangsawan dari Galuh. Kerajaan yang beribu kota di Pakuan (kini, Bogor) itu untuk pertama kalinya berhasil menyatukan seluruh wilayah Jawa Barat, dari selatan sampai utara, di bawah kekuasaan tunggal.

Pajajaran melancarkan serangan ke pelabuhan-pelabuhan pesisir utara, termasuk ke Wahanten Girang atau Banten Girang.

Sejarawan Claude Guillot mencatat bahwa karena tak ada satu indikasi pun yang memungkinkan dugaan bencana alam, terpaksa disimpulkan bahwa Banten Girang musnah dalam perang sekitar tahun 1400. Banten Girang hancur dan perekonomian berhenti.

Advertising

Advertising

“Untuk periode tersebut diketahui hanya satu serangan terhadap kota ini yang menurut teks berbahasa Sunda, Carita Parahyangan, dilakukan oleh pasukan Pajajaran,” tulis Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X–XVII.

Baca juga: Mataram Batal Menyerang Banten

Banten berada di bawah kekuasaan Pajajaran hingga awal abad ke-16. Ketika kekuasaan Pajajaran merosot, Kerajaan Demak, melancarkan beberapa serangan ke Banten paling tidak mulai tahun 1520. Untuk menghadapi serangan pasukan Islam itu, pada 1511 penguasa Banten berusaha meminta bantuan kepada Portugis di Malaka.

Penguasa Demak kemudian mengutus seorang ulama, Sunan Gunung Jati dan anaknya, Hasanuddin, ke Banten Girang, untuk membantu dari dalam. Portugis tidak segera merespons permintaan penguasa Banten.

Penguasa Banten yang disebut “Sanghyang” keburu meninggal dan mungkin peristiwa inilah yang melemahkan kekuatan militer Banten. Sunan Gunung Jati pun memanfaatkan kesempatan itu untuk memberi tahu pasukan Demak agar merebut pelabuhan Banten.

“Di pengujung tahun 1526, Sunan Gunung Jati dan anaknya, Hasanuddin, dibantu dari dalam oleh Ki Jongjo, salah seorang petinggi kota yang menjadi mualaf dan memihak kaum Islam, pasukan Demak berhasil merebut pelabuhan Banten, kemudian ibu kota Banten Girang,” tulis Guillot. Setahun kemudian, pada 1527, Sunan Gunung Jati merebut pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta.

Jadi, lanjut Guillot, dinasti Islam bukanlah pendiri Banten. Sebenarnya dinasti ini merebut kekuasaan dari sebuah negara yang memiliki sejarah panjang dan yang kemakmurannya sejak lama bertumpu pada penghasilan biji lada dan perdagangan internasional.

Baca juga: Perang Banten-Cirebon di Akhir Ramadan

Sunan Gunung Jati kemudian menetap selamanya di Cirebon. Hasanuddin menggantikannya berkuasa di Banten. Dia memerintah selama beberapa tahun di Banten Girang. Ayahnya kemudian memerintahkan untuk memindahkan istana ke pelabuhan Banten. Di sana, dia membangun istana Surosowan, alun-alun, pasar, masjid agung, dan masjid di kawasan Pacinan.

Hasanuddin meninggal dunia pada 1570, pada tahun yang sama dengan ayahnya. Dia digantikan anaknya, Maulana Yusuf. Pembangunan yang dilakukannya dalam naskah Babad Banten disebut gawe kuta buluwarti bata kalawan kawis (membangun kota dengan menggunakan bata dan karang).

Yusuf membangun saluran-saluran, bendungan, benteng pertahanan, memperluas serambi masjid agung yang dibangun ayahnya, dan membangun sebuah masjid di Kasunyatan. Selain pembangunan fisik, dia juga mengembangkan perkampungan dan pertanian (ladang dan sawah).

Peran lain Yusuf yang sangat penting adalah penyebaran agama Islam melalui penaklukan.

“Beliau berhasil meruntuhkan seluruh kerajaan Sunda yang berkedudukan di Pakuan Pajajaran. Penyerangan ini dilandasi oleh tekadnya untuk menyebarkan agama Islam ke daerah pedalaman Banten, sehingga sejak saat itu Jawa Barat menjadi daerah penyebaran agama baru ini,” tulis Heriyanti Ongkodharma Untoro dalam Kapitalisme Pribumi Awal: Kesultanan Banten 1522-1684.

Baca juga: Perang Dua Pangeran Banten

Menurut H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, motivasi lain Banten menyerang Pajajaran mungkin merasa penyaluran hasil bumi ke kota pelabuhan, guna usaha perdagangannya, terancam. Mungkin juga harapan untuk mendapat banyak rampasan perang merangsang semangat tempur mereka.

Seperti strategi kakeknya ketika merebut Banten, keberhasilan Yusuf menaklukkan Pajajaran juga berkat bantuan orang dalam.

De Graaf dan Pigeaud mencatat, berdasarkan uraian yang cukup panjang dalam Sadjarah Banten dapat disimpulkan bahwa kemenangan tentara Banten dipermudah oleh pengkhianatan seorang pegawai raja Pajajaran. Pengkhianat itu telah membuka pintu bagi saudaranya yang memegang komando atas sebagian laskar Banten. Dari cerita itu juga diketahui bahwa sudah ada orang Sunda Islam yang ikut bertempur di pihak Banten.

Baca juga: Ratu Banten Ditahan di Pulau Edam

Sadjarah Banten juga menyebut banyak penguasa dan alim ulama ikut menyerang Pakuan. “Pimpinan agama dipegang oleh Molana Judah (dari Jeddah, Arab); tentang Molana ini tidak diketahui lebih lanjut,” tulis De Graaf dan Pigeaud.

Setelah Pakuan jatuh dan raja beserta keluarganya menghilang, golongan bangsawan Sunda masuk Islam. Karenanya mereka diperbolehkan tetap menyandang pangkat dan gelarnya.

Setahun setelah penaklukkan Pakuan Pajajaran, Maulana Yusuf meninggal dunia pada 1580.