Jelaskan arti nama baturaden berdasarkan versi Kadipaten Kutaliman

KOMPAS.com - Baturraden merupakan tempat wisata alam di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Daerah wisata ini terletak di lereng Gunung Slamet dengan ketinggian 3.432 meter di atas permukan laut yang memiliki udara sejuk.

Baturraden memiliki Legenda Baturraden yang merupakan cerita rakyat Banyumas. Legenda ini menceritakan tentang asal-usul Baturraden.

Asal-usul Baturraden

Legenda asal-usul Baturraden berkembang dalam berbagai versi.

Dilansir dari karya ilmiah Legenda Baturraden Dalam Gambar Ilustrasi Dengan Teknik Arsir karya Zulfikar Amran Gany, legenda Baturraden diambil dari versi Kadipaten Kutaliman dan Syeh Maulanna Maghribi.

Penulis juga melengkapi cerita dari versi "Kadipaten Kutaliman" berdasarkan buku Cerita Rakyat dari Banyumas karya Muhammad Jaruki.

Konon pada zaman dahulu di Kadipaten Kutaliman, wilayah yang letaknya sekitar 10 Km sebelah barat kaki Gunung Slamet, hidup seorang Adipati Kutaliman dengan istri, seorang puteri cantik, abdi dalem, seorang 'Batur Gamel' (pembantu rumah tangga yang mengurus kuda milik Adipati Kutaliman).

Batur Gamel merupakan pemuda berparas tampan, bertanggung jawab, dan tekun.

Baca juga: Asal-usul Kota Cianjur, Kisah Kepatuhan Warga Memenuhi Anjuran Pemimpin

Ia selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Kuda Adipati Kutaliman selalu dirawat dengan baik sehingga kuda itu jarang sakit.

Suatu pagi, Batur Gamel pergi mencari makan kuda peliharaan Adipati Kutaliman. Ia menyusuri tepi hutan yang banyak ditumbuhi rumput-rumput tinggi.

Saat sedang memotong rumput, Batur Gamel mendengar suara jeritan seseorang tidak jauh dari tempatnya berada.

Mendengar suara yang terdengar minta tolong, Batu Gamel bergegas lari menuju arah suara itu.

Ia mendapati seorang wanita terjerembab, sedangkan di dekatnya ada ular berdesis.

Batur Gamel langsung melawan ular itu, ia mengeluarkan kudi semacam parang untuk menebas leher ular hingga putus.

Batur Gamel baru menyadari bahwa wanita yang ditolongnya adalag putri Adipati Kutaliman, putri majikannya.

Sejak saat itu, putri Adipati dan Batur Gamel sering bertemu, hubungan mereka semakin akrab.

Baca juga: Asal Usul Nama Bandung Berdasarkan Sejarah dan Cerita Rakyat

Semakin lama, putri Adipati menaruh hati pada Batur Gamel, bagitu pula Batur Gamel yang jatuh hati atas kebaikan dan kecantikan putri.

Namun status mereka berbeda, hubungan cinta yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi semakin merekah dan melampaui batas. Hingga, putri Adipati hamil.

Suatu hari, Adipati Kutaliman dan istrinya memanggil putri mereka.

Dalam perbincangan itu, Adipati Kutaliman dan istri ingin melihat putrinya segera menikah.

Terlebih, banyak putra-putra dari adipati lain yang ingin meminang putri mereka. Adipati Kutaliman dan istri menyerahkan pilihan pada sang putri.

Namun, putri malah menangis dan tampak kebingungan, kedua orang tuanya heran dengan sikap putri tersebut.

Semakin lama, keadaan semakin memburuk, usia kehamilan putri yang semakin membesar tidak mungkin lagi di sembunyikan.

Batur Gamel Melamar Putri Adipati

Batur Gamel memutuskan untuk memberanikan diri melamar putri, namun putri menjadi ketakutan karena pada zaman itu pernikahan beda kasta menjadi aib.

Tekad Batur Gamel begitu kuat, ia menemui Adipati Kutaliman dan menceritakan apa yang terjadi dengan putri Adipati Kutaliman. Ia juga menyampaikan maksud untuk menikahi putri sebagai bentuk rasa cinta dan tanggung jawab.

Baca juga: Asal-usul Nama Surabaya, Pertarungan Sura dan Baya

Adipati Kutaliman murka mendengar pengakuan Batur Gamel. Ia merasa kehormatan, nama baik, dan kewibawaannya telah dinodai putrinya dan pembantunya sendiri.

Seketika, Adipati Kutaliman mengusir putri dan Batur Gamel keluar dari kadipaten.

Putri Adipati tidak bisa berbuat banyak, ia pergi meninggalkan istana bersama Batur Gamel menuju arah utara dengan tujuan yang tidak jelas.

Dalam perjalanan, kasih keduanya semakin tumbuh walaupun harus berjalan masuk keluar hutan dan naik turun gunung.

Saat sedang beristirahat di tepi sungai, tiba-tiba perut putri sakit dan melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Lalu, sungai itu diberi nama Kali Putra.

Setelah bayi itu lahir, mereka memutuskan untuk tinggal sementara di suatu tempat. Mereka menemukan tempat yang sejuk, segar, dan nyaman untuk ditinggali. Batur Gamel membuat rumah kayu sebagai tempat berlindung.

Sementara, Adipati Kutaliman dan istri selalu dilanda kemurungan setelah kepergian putri tercinta. Mereka menyesal telah mengusir putri dari kadipaten. Lalu, mereka menyuruh abdi dalem untuk mencari putri kesayangan.

Baca juga: Asal-usul Burung Cendrawasih, Tokoh dan Pesan Moral

Akhirnya, abdi dalem berhasil menemukan putri Adipati, ia mengutarakan maksud untuk meminta putri kembali ke kadipaten.

Namun putri menolak, ia merasa bersalah yang mengakibatkan nama baik ayahnya tercoreng, maka ia menganggap pantas mendapatkan hukuman ini.

Putri Adipati, Batur Gamel dan anaknya memutuskan tinggal di rumah sederhana milik mereka sebagai bentuk hukuman atas apa yang pernah mereka lakukan dahulu.

Tempat tinggal mereka berada di kawasan yang segar, sejuk, dan berada di lereng Gunung Slamet.

Kemudian, wilayah itu diberi nama Baturraden yang dalam bahasa Jawa berarti "Batur" (pembantu yaitu Batur Gamel) dan Raden (gelar kebangsaan Jawa untuk menyebut anak bangsawan, yaitu putri Adipati).

Legenda menjadi pelajaran bahwa kita harus bertanggung jawa atas kesalahan yang telah dilakukan.

Sumber :

lib.unnes.ac.id

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Berikut ini sebuah cerita rakyat dari Jawa Tengah mengenai asal usul sebuah tempat bernama Baturaden.

Baturaden adalah sebuah tempat wisata di sebelah utara Purwokerto atau di lereng Gunung Slamet, kecamatan Banyumas, Jawa Tengah. 

Baturaden artinya pembantu dan bangsawan. 

Berasal dari kata “batur” yang berarti pembantu dan “raden” yang berarti bangsawan. 

Menurut cerita rakyat Jawa Tengah, Baturaden merupakan kisah cinta antara Suta, seorang perawat kuda milik Adipati Kutaliman dengan putri Adipati Kutaliman yang berdarah bangsawan. 



Kisah cinta ini terjadi dahulu kala di Kadipaten Kutaliman, Banyumas, Jawa Tengah sekarang. 

Adipati Kutaliman memiliki seorang pembantu bernama Suta. 

Tugas Suta adalah merawat kuda-kuda milik Adipati Kutaliman dan membersihkan istal (kandang kuda). 

Disamping dikenal sebagai sosok perkerja keras dan jujur, Suta juga dikenal memiliki paras yang tampan rupawan. 

Selama bekerja di Kadipaten Kutaliman, Suta tidak pernah membuat masalah. 

Selepas mengurus kuda-kuda Kadipaten, Suta biasa mengisi waktunya dengan berjalan mengelilingi area Kadipaten. 

Karena Kadipaten memiliki area yang cukup luas, setiap harinya Suta akan berjalan melewati lokasi yang berbeda.

Di suatu hari, Suta berjalan mengelilingi area Kadipaten setelah seharian berkerja mengurus kuda-kuda Adipati. 

Saat melewati sebuah pohon mangga, Suta mendengar suara jeritan perempuan minta tolong. 

Ketika menengok ke pohon mangga, terkejutlah Suta melihat seekor ular sangat besar di balik pohon mahoni tengah berusaha memangsa seorang perempuan. 

Sosok perempuan tersebut nampak sudah pucat pasi dililit ular besar tersebut. 

Tanpa pikir panjang, Suta segera mengeluarkan pedangnya dan langsung menyerang ular besar tersebut. 

Sebenarnya Suta bukanlah ahli pedang yang hebat, namun Suta nampak bersungguh-sungguh ingin menolong perempuan yang sudah tidak berdaya. 

Akhirnya setelah bersusah payah, Suta berhasil membunuh ular besar tersebut.

Perempuan yang hampir dimangsa oleh ular itu jatuh tak sadarkan diri. 

Segera seorang inang pengasuh membawa perempuan tersebut ke sisi pendopo. 

Saat Suta melihat wajah perempuan tersebut, terkejutlah ia karena perempuan yang baru saja ditolongnya itu ternyata putri Adipati Kutaliman. 

Meskipun telah lama tinggal di Kadipaten Kutaliman, namun baru kali ini ia melihat langsung wajah putri Adipati yang sudah terkenal kecantikannya.

Setelah sadarkan diri, inang pengasuh memberi tahu putri Adipati Kutaliman, bahwa ia telah ditolong oleh Suta, si pengurus kuda. 

Putri Adipati segera mengucapkan terima kasih kepada Suta. 

Saat keduanya bertatapan itulah tumbuh rasa cinta di hati mereka. 

Sejak saat itu keduanya menjadi akrab dan sering bertemu. 

Adipati Kutaliman mengetahui perihal pertemanan putrinya dengan Suta si pengurus kuda, namun Adipati tidak mempermasalahkannya.

Setelah sekian lama berteman dengan putri Adipati, Suta sudah tidak sanggup lagi menahan rasa cintanya kepada sang putri. 

Ia lantas memberanikan diri untuk meminang putri Adipati kepada ayahandanya, kendati ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang pembantu.

Terang saja keberanian Suta melamar putri Adipati membuat berang Adipati Kutaliman. 

Ia tidak mempermasalahkan pertemanan putrinya dengan Suta, tetapi jika harus menikah tentu saja Adipati tidak terima mengingat status sosial yang berbeda. 

Karena merasa Suta telah lancang berani meminang putrinya, Adipati Kutaliman memerintahkan pengawal untuk memenjarakan Suta di penjara bawah tanah tanpa diberi makanan.

Suta sangat mencintai putri Adipati dan begitu pula sebaliknya. 

Status sosial keduanyalah yang memisahkan mereka. 

Hukuman ayahandanya kepada Suta membuat putri bersedih. 

Putri Adipati akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan Suta dari penjara. 

Tidak hanya itu, putri Adipati memutuskan untuk lari dari Kadipaten dan hidup bersama dengan pria yang ia cintai.

Sebuah rencana dilaksanakan pada suatu malam, putri adipati menyuruh pembantu kepercayaannya untuk membebaskan Suta dari penjara bawah tanah. 

Sementara ia sendiri mengganti pakaiannya menggunakan pakaian rakyat jelata dan menunggu di salah satu sisi Kadipaten. 

Pembantu kepercayaan sang putri masuk ke penjara bawah tanah dan memberikan makanan kepada para penjaga. 

Tentu saja para penjaga tidak merasa curiga karena telah mengenal baik pembantu sang putri. 

Seusai memakan makanan, para penjaga pun tertidur pulas. 

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pembantu putri Kadipaten untuk membebaskan Suta. 

Ia segera membawa Suta yang terlihat sangat lemah menemui putri Adipati di salah satu sisi Kadipaten.

Kemudian putri Adipati dan Suta pergi ke luar Kadipaten dengan menunggang kuda. 

Putri Adipati memacu kudanya menuju ke arah lereng Gunung Slamet. Saat itu malam gelap pekat jadi tidak ada yang mengenali putri Adipati Kutaliman. 

Putri Adipati Kutaliman akhirnya menghentikan kudanya di dekat sungai. 

Mereka berdua sangat menyukai tempat tersebut karena berhawa sejuk dan pemandangannya asri. 

Akhirnya mereka menikah disana dan membangun rumah tangga. 

Saat ini tempat itu oleh masyarakat dikenal dengan nama Baturaden.


Baca juga cerita rakyat Jawa Tengah lainnya: