Bagaimana model pembelajaran tentang fakta, konsep dan generalisasi

You're Reading a Free Preview
Pages 6 to 12 are not shown in this preview.

Academia.edu no longer supports Internet Explorer.

To browse Academia.edu and the wider internet faster and more securely, please take a few seconds to upgrade your browser.

Ilmu-ilmu sosial mengkaji perilaku manusia yang berlangsung dalam proses kehidupan sehari-hari dalam upaya menjelaskan mengapa manusia berperilaku seperti apa yang mereka lakukan. Setiap ilmu sosial merupakan suatu disiplin ilmu tersendiri yang memiliki scope materi dan metodologi tertentu, batang tubuh, atau struktur ilmu pengetahuan (body of knowledge atau struktur of knowledge) tentang suatu bidang kajian. Setiap ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, antropologi, sosiologi, psikologi sosial, ilmu politik dan pemerintahan, memandang manusia dari sudut pandangnya masing-masing dan menggunakan metode kerja yang berbeda untuk memperoleh struktur ilmunya.

Pengetahuan tentang tindakan atau perilaku manusia ini memberikan suatu pola dasar bagi materi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Dalam suatu struktur ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya ilmu sosial, tersusun dalam 3 (tiga) tingkatan materi, dimulai dari yang paling sempit sampai kepada yang paling luas, yaitu fakta, konsep, dan generalisasi (Savage dan Armstrong dalam Fakih Samlawi dan Bunyamin Maftuh, 1998:4).

Permasalahan dalam makalah ini adalah:

1.      Apa yang dimaksud dengan fakta, konsep, dan generalisasi?

2.      Sejauhmana kedudukan fakta, konsep, dan generalisasi dalam IPS?

3.      Bagaimana model pembelajaran tentang fakta, konsep, dan generalisasi dalam IPS?

1.      Mengetahui pengertian fakta, konsep, dan generalisasi.

2.      Mengetahui sejauhmana kedudukan fakta, konsep, dan generalisasi dalam IPS.

3.      Mengetahui bagaimana model pembelajaran tentang fakta, konsep, dan generalisasi dalam IPS.



Pengetahuan tentang tindakan atau perilaku manusia memberikan suatu pola dasar bagi materi ilmu pengetahuan sosial. Struktur ilmu pengetahuan, termasuk ilmu sosial tersusun dalam 3 tingkatan, yaitu fakta, konsep dan generalisasi. Di bawah ini akan dijelaskan pengertian dari ketiganya.

Fakta dapat diartikan sebagai suatu informasi atau data yang ada/terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan dikumpulkan dan dikajin oleh para ahli ilmu sosial yang terjamin kebenarannya. Walaupun demikian fakta memiliki kekuatan yang terbatas unutk menjelaskan suatu masalah. Fakta menunjuk pada kondisi yang khusus dan keberlakuannya terbatas (kurang berlaku umum). Di bawah ini dikemukakan beberapa contoh fakta sebagai berikut:

a)    Penduduk Indonesia berkonsentrasi di Pulau Jawa, Bali, dan Madura.

b)   Ikrar Sumpah Pemuda terjadi pada tanggal 28 Oktober 1928.

c)    Gunung Galunggung meletus pada tahun 1982.

d)   Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

e)    Bandung adalah Ibu Kota Propinsi Jawa Barat.

f)    Orde Reformasi dimulai tahun 1998.

Pentingnya fakta dalam struktur susunan ilmu pengetahuan karena fakta dapat membentuk suatu konsep dan generalisasi.

Menurut Savage dan Armstrong (1996:24) mengatakan bahwa: “Konsep tidak dapat dipelajari dalam kekosongan, melainkan dicapai dalam suatu proses yang melibatkan fakta-fakta yang khusus”. Dari beberapa fakta yang khusus dan saling berkaitan satu sama lain, maka dapat membentuk suatu konsep atau pengertian. Karena begitu banyaknya fakta dalam kehidupan sosial manusia, maka tidak mungkin seorang guru dapat mengajarkan semua fakta tersebut. Oleh karena itu, guru harus memilih fakta yang dapat membantu para siswa untuk mampu memahami konsep dan generalisasi.

Hubungan yang erat antara fakta dan konsep dapat dilihat pada ilustrasi berikut. Sebagai contoh:

Seorang anak berasal dari keluarga yang kurang mampu, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar sudah berjuang keras untuk menyelesaikan studinya.

Waktu di SD ia pernah berjualan es untuk menambah uang jajan yang diberikan oleh orang tuanya yang tidak memenuhi kebutuhan sekolahnya. Di SLTP ia berjualan Koran dan di SLTA ia pernah bekerja di suatu percetakan buku sehabis pulang sekolah. Sampai di Perguruan Tinggi ia bekerja di sebuah perusahaan garment. Semua pekerjaan ia lakukan dengan serius dan tekun sehingga dapat menyelesaikan studinya sampai menjadi seorang sarjana.

Fakta di atas tampak saling berkaitan dan membentuk suatu gagasan atau konsep tentang cita-cita. Suatu cita-cita tidak dapat tercapai tanpa adanya perjuangan dan pengorbanan. Siapa pun yang ingin mencapai cita-citanya ia harus berjuang dan berkorban apakah itu pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan. Sebenarnya dari ilustrasi di atas terdapat tiga konsep perjuangan, pengorbanan, dan cita-cita. Atau dengan kata lain suatu cita-cita akan tercapai bila disertai perjuangan dan pengorbanan.

Dari contoh di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa beberapa fakta yang saling berkaitan dapat membentuk suatu konsep.

Contoh lain dari beberapa fakta yang saling berkaitan untuk membentuk konsep adalah sebagai berikut:

Indonesia selama tiga setengah abad dijajah oleh bangsa Belanda. Sejak tahun 1908 bangsa Indonesia mulai berjuang untuk melawan penjajahan yang dikenal dengan hari Kebangkitan Nasional. Dengan melalui perjalanan yang panjang dengan pengorbanan tang tidak sedikit, bangsa Indonesia menyatakan bebas dari penjajahan pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia terus berjuang untuk mempertahankan kemerdekaannya. Setelah merdeka bangsa Indonesia merasa kedudukannya sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Oleh karena itu, bangsa Indonesia ingin menentukan nasib dan masa depannya sendiri.

Fakta-fakta tersebut di atas tampak saling berhubungan untuk membentuk suatu konsep atau gagasan berupa kemerdekaan. Suatu bangsa dan Negara yang ingin merdeka berani berkorban untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaannya, bebas menentukan  nasibnya sendiri, kedudukan sederajat dengan bangsa lain. Jika siswa membaca keadaan suatu bangsa lain seperti itu, maka dalam pikirannya akan terbentuk suatu pengertian atau konsep tentang “kemerdekaan”.

Dari beberapa contoh dan ilustrasi di atas dapat dikatakan bahwa fakta merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang pernah terjadi atau pernah ada dan memberikan informasi yang bermakna bagi manusia, sehingga dapat membentuk sebuah konsep.

Terdapat dua makna yang dapat ditangkap bila mendengar istilah atau kata “konsep”. Untuk membedakan kedua makna tentang kata konsep dapat dicontohkan dengan dua kalimat berikut:

Pertama: Mahasiswa PPL itu belum selesai membuat konsep laporan praktek mengajar.

Kedua: Saya belum mengerti tentang konsep IPS yang diterangkan oleh dosen.

Pengertian atau makna kata konsep pada kalimat pertama berarti “rancangan” atau draff. Sedangkan pengertian atau makna kata konsep pada kalimat kedua berarti gagasan atau ide, pokok-pokok pikiran dalam pelajaran IPS.

Yang akan dijelaskan dalam uraian berikut ini adalah pengertian konsep pada kalimat kedua. Konsep secara sederhana dapat diartikan sebagai penamaan (pemberian label) untuk sesuatu yang membantu seseorang mengenal, mengerti, dan memahami tentang sesuatu tersebut.

Konsep adalah suatu kesepakatan bersama untuk penamaan sesuatu dan merupakan alat intelektual yang membantu kegiatan berpikir dan memecahkan masalah. Apabila diperoleh sejumlah informasi misalnya; ada sebuah benda yang dibuat dari kayu, memiliki empat buah kaki, ada bidang datar di atas kaki tersebut yang dipergunakan untuk menulis; maka dengan kemampuan mental kita, informasi atau fakta tersebut kita sederhanakan dengan cara memberi nama atau label yaitu “meja tulis”.

Menurut S. Hamid Husen (1995) mengemukakan bahwa: “Konsep adalah pengabstraksian dari sejumlah benda yang memiliki karakteristik yang sama”. Setiap benda yang memiliki roda 4 buah terbuat dari besi dan kayu, memiliki bensin, berjalan di darat dan dipakai untuk angkutan penumpang dan barang, maka benda-benda yang memiliki karakteristik seperti itu dinamakan atau diabstraksian sebagai “mobil”.

Selanjutnya More dalam Skell (1995:30) bahwa: “Konsep itu adalah sesuatu yang tersimpan dalam benak atau pikiran manusia berupa sebuah ide atau sebuah gagasan”. Sedangkan  Parker menyatakan bahwa: “Konsep itu adalah gagasan-gagasan tentang sesuatu”. Konsep dapat dikatakan sebagai gagasan yang ada melalui contoh-contoh. Dari contoh di atas menggambarkan bahwa seseorang harus terlibat dalam proses berpikir, karena ia sedang memikirkan tentang contoh-contoh konsep. Proses berpikir itu sering disebut dengan istilah “konseptualisasi”, yaitu suatu yang terus menerus yang berlangsung apabila seseorang sedang memikirkan contoh-contoh baru dari suatu konsep. Oleh karena itu, kesan mental (mental image) dari seseorang tentang suatu konsep akan berbeda karena tergantung kepada latar belakang pengetahuan, ilmu yang dimiliki dan budaya orang melakukan konseptualisasi.

Konsep dapat dinyatakan dalam sejumlah bentuk konkrit atau abstrak, luas atau sempit, satu kata atau frase. Beberapa konsep yang bersifat konkrit misalnya; manusia, gunung, lautan, daratan, rumah, Negara, barang konsumsi, pakaian, pabrik, dan sebagainya.

Kata-kata tersebut di atas merupakan benda-benda konkrit yang dapat dilihat, diraba, dan dirasakan. Sementara itu konsep yang bersifat abstrak adalah; demokrasi, kejujuran, kesetiaan, keadilan, kebebasan, tanggung  jawab, hak, pertimbangan, sistem hukum, dann lain-lain.

Terdapat beberapa konsep yang begitu luas dan atau abstrak sehingga sulit untuk dirumuskan. Oleh karena itu harus diuraikan agar dapat dipahami, misalnya saja konsep tentang kebudayaan, kasih sayang, dan lain-lain. Sementara itu ada konsep yang sangat sempit, mudah dipahami, dapat dilihat dan dirasakan dan penggunaannya pun terbatas, misal; “rumah”. Konsep dapat pula terdiri dari satu kata, misalnya “kerja”, namun bisa pula berupa frase seperti pembagian kerja, lapangan kerja dan lain-lain.

Konsep begitu penting bagi manusia, karena konsep dapat membantu seseorang untuk mengorganisasikan informasi atau data yang mereka hadapi. Konsep dapat menempatkan informasi dalam kategori-kategori atau kelompok-kelompok dan mempertimbangkan hubungan antar data. Dalam menentukan kerangka konseptual, seseorang perlu memiliki sifat keterbukaan untuk menempatkan informasi baru yang sedang dihadapi. Berbeda dengan fakta yang terbatas pada situasi khusus, konsep mempunyai penerapan yang luas dan dapat multi interpretasi (banyak penafsiran).

Konsep dapat diperoleh seseorang dengan harus mengenal, memahami, dan merumuskan data-data yang menjadi ciri/atribut dari suatu konsep. Pengalaman sebelumnya sangat diperlukan untuk menghadapi bermacam konsep dalam situasi yang berbeda.

Konsep dapat berupa sejumlah fakta yang memiliki keterkaitan dengan makna atau definisi yang ditentukan. Konsep diberi label atau nama berupa kata-kata. Karakteristik atau ciri-ciri konsep disebut atribut, misalnya konsep tentang “sepeda motor” dapat dijelaskan dengan atribut berikut: (1) Kendaraan beroda dua, (2) digerakkan dengan mesin, (3) berbahan bakar bensin. Dalam ilmu-ilmu sosial banyak konsep yang sulit dimaknai karena konsep tersebut bersifat abstrak, seperti demokrasi, kebudayaan, keadilan, kesetiaan, dan lain-lain.

Generalisasi berasal dari kata “general” yang berarti umum atau menyeluruh. Oleh karena itu, generalisasi merupakan pengambilan kesimpulan secara umum dari suatu gejala informasi yang kita terima yang didukung oleh data dan fakta yang ada.

Fakih Samlawi (1998:9) mengemukakan bahwa: “Generalisasi merupakan sejumlah konsep yang memiliki karakteristik dan makna. Generalisasi adalah pernyataan tentang hubungan diantara konsep. Generalisasi mengungkapkan sejumlah besar informasi”. Kebenaran suatu generalisasi ditentukan oleh rujukan pembuktian. Beberapa generalisasi yang kita terima hari ini, mungkin pada masa yang akan datang harus diperbaiki, sehingga diperlukan bukti-bukti yang baru pula.

Savage dan Armstrong (1996:26) dalam  menyatakan: “Ketika angka pengangguran di suatu negara meningkat, maka kejahatan dan kriminal pun meningkat pula.”

Dari generalisasi di atas terdapat berupa konsep yaitu: konsep pengangguran, konsep negara, konsep kejahatan, dan konsep kriminal. Para siswa sangat perlu memahami konsep-konsep tersebut sebelum ia dapat menangkap makna dari generalisasi di atas.

Untuk melihat keterkaitan antara fakta, konsep, dan generalisasi, dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Struktur Ilmu Pengetahuan (Dimodifikasi Model Savage dan Armstrong)

Gambar di atas menjelaskan bahwa untuk membentuk suatu generalisasi pada taraf awal harus  didukung oleh sejumlah besar fakta, membawakan sejumlah konsep untuk mengungkapkan sebuah generalisasi. Fakta memiliki keberlakuan atau penerapan yang sangat terbatas ke arah waktu, tempat, dan ruang atau kejadian lain. Sedangkan konsep memiliki daya keberlakuan dan penerapan yang lebih luas yang membantu seseorang untuk membentuk dan memahami suatu generalisasi. Dengan generalisasi kita dapat memperkirakan kejadian-kejadian yang akan datang. Karena memiliki keberlakuan yang lebih luas, maka konsep dan generalisasi lebih bersifat umum (kurang spesifik) bila dibandingkan dengan fakta. Sesuatu yang perlu digaris bawahi adalah bahwa fakta, konsep, dan generalisasi semua penting bagi menusia. Fakta dapat membedakan contoh-contoh konsep dan generalisasi yang lebih spesifik. Namun demikian apabila fakta tidak memiliki keterkaitan dengan konsep dan generalisasi, maka fakta itu hanyalah setumpuk hal yang sepele yang sedikit kemanfaatannya.

B.     Fakta, Konsep, Dan Generalisasi Dalam IPS

Dalam kurikulum Sekolah Dasar tahun 2004 dikemukakan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan suatu mata pelajaran yang mengkaji serangkaian peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial dan kewarganegaraan.

Sedangkan fungsi dari Ilmu Pengetahuan Sosial itu sendiri fungsinya adalah untuk mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap, dan negara Indonesia.

Bertitik tolak dari pengertian IPS tersebut, fakta merupakan salah satu materi yang dikaji dalam IPS. Dengan fakta-fakta yang ada, kita dapat menyimpulkan sesuatu atau beberapa peristiwa yang pernah terjadi. Fakta sangat penting dalam struktur ilmu atau susunan ilmu karena dari fakta yang ada kita dapat membentuk suatu konsep dan generalisasi.

IPS sebagai bidang kajian terdiri dari konsep dasar sejarah, seperti konsep peristiwa/ kejadian tempat dan waktu. Geografi erdiri dari konsep lokasi, posisi (kedudukan), situasi, tempat (side), distribusi, dan perancangan. Dalam ilmu ekonomi terdiri dari konsep kelangkaan (scancity), spesialisasi (specialization), saling ketergantungan (interdepence), pasar (market), dan konsep kebijaksanaan umun (public policy). Pada sosiologi mengkaji konsep keanggotaan dalam kelompok prilaku, tujuan, norma, nilai, peran, keluwesan, dan lokasi. Sedangkan adat istiadat, etika, tradisi, hukum dan keyakinan. Dalam psikologi terkandung konsep-konsep kemandirian, motif, sikap, persepsi interpersonal, kelompok, norma kelompok, konflik, dan sebagainya. Sedangkan dalam ilmu politik terkandung konsep negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijaksanaan, pembagian kekuasaan, demokrasi, dan lain-lain.

Dengan menggunakan berbagai konsep ilmu sosial untuk memecahkan masalah sosial, maka pada akhirnya kita harus mengambil sebuah keputusan atau kesimpulan bagaimana hasil penyelesaian masalah yang sedang dihadapi.

3.      Generalisasi dalam IPS

Generalisasi merupakan pernyataan tentang hubungan antara konsep yang mengungkapkan sejumlah besar informasi. Dengan demikian, generalisasi berisi beberapa atau banyak konsep.

Struktur Ilmu Pengetahuan teridir dari fakta, konsep, dan generalisasi. Dari pernyataan itu, jelas bahwa Ilmu Pengetahuan tidak akan terbentuk secara teoritis apabila tidak didukung oleh generalisasi, maka sudah tentu materi ilmu pengetahuan sosial tidak terbentuk sesuai dengan struktur ilmu yang ada.

Fakta akan bermakna bila terkait dengan konsep, konsep pun baru bermakna bila terkait dengan bentuk generalisasi, dan generalisasi merupakan simpulan-simpulan implementasi yang akan membentuk teori ilmu pengetahuan.

Keterkaitan dan kedudukan atau peranan generalisasi dalam IPS sudah diawali sejak pengumpulan fakta atau data, membentuk suatu konsep dan akhirnya membuat suatu generalisasi. Dengan demikian antara fakta, konsep, dan generalisasi merupakan suatu rangkaian keseluruhan (sistem) yang satu sama lain tidak dapat dipisahkan dalam rangka membentuk suatu teori ilmu pengetahuan termasuk IPS.

C.    Model Pembelajaran Konsep, Fakta, Dan Generalisasi Dalam IPS

Memahami fakta, konsep, dan generalisasi sangatlah penting, karena dalam membentuk suatu teori dalam ilmu pengetahuan tidak akan terlepas dari unsur fakta, konsep, dan generalisasi. Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu bahwa fakta merupakan suatu informasi atau data yang terjadi dalam kehidupan ini dikumpulkan oleh para ahli ilmu sosial untuk menjamin kebenarannya, dan memiliki kemampuan menjelaskan yang terbatas, seperti contoh; angin berhembus, matahari terbit dari sebelah timur, Jakarta adalah ibu kota negara Indonesia. Sedangkan konsep adalah penamaan (pemberian label) terhadap sesuatu untuk membantu seseorang mengenal, memahami, dan mengerti sesuatu tersebut (Fakih Samlawi, dkk : 1998). Dikatakan lebih lanjut bahwa konsep merupakan kesepakatan bersaa untuk penamaan sesuatu sebagai alat intelektual yang membantu kegiatan berpikir dan memecahkan masalah. Konsep dapat dinyatakan dalam beberapa bentuk, seperti; konkrit atau abstrak, luas atau sempit, satu kata atau frase. Konsep konkrit adalah yang berkaitan dengan objek, lembaga, atau kejadian seperti; pulau, daratan, lautan, manusia, gunung, barang, konsumsi, negara, partai politik, produsen, konsumen, gempa bumi, kemarau, dan sebagainya.sementara konsep yang bersifat abstrak adalah ; demokrasi, adaptasi, kejujuran, kesetiaan, kebudayaan, kemerdekaan, keadaan, tanggungjawab, kerjasama, hak, kesamaan, pertentangan, dan sebagainya. Sedangkan generalisasi merupakan sejumlah konsep yang memiliki keterkaitan dan makna, atau pernyataan tentang hubungan diantara konsep. Kebenaran suatu generalisasi ditentukan oleh rujukan pembuktiannya.

Siswa Sekolah Dasar dalam proses pembelajaran lebih cenderung untuk mempelajari hal-hal yang konkrit dari pada yang bersifat abstrak. Oleh karena itu, seorang guru dalam membelajarkan fakta, konsep, dan generalisasi hendaklah menggunakan contoh-contoh yang konkrit yang sesuai dengan tingkat berpikir atau perkembangan intelektual siswa.

Berikut ini adalah salah satu model pembelajaran yang dapat diguanakn oleh guru utnuk mengkaji dan mengajar tentang fakta, konsep, dan generalisasi; langkah-langkah pembelajarannya secara bersama-sama disajikan sebagai berikut:

Topik/PB         : Fakta, konsep, dan generalisasi

Tujuan             : Pada akhir pembelajaran diharapkan siswa dapat:

(1)   Menyebutkan pengertian fakta, konsep, dan generalisasi,

(2)   Menjelaskan hubungan antara fakta, konsep, dan generalisasi,

(3)   Menjelaskan peranan atau kedudukan fakta, konsep, dan generalisasi dalam Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Deskripsi         : untuk membantu siswa mengenal atau memahami fakta,

  konsep, dan generalisasi, perlu menampilkan suatu

  peristiwa dan kejadian dalam kehidupan sehari-hari,

  kemudian itu yang berkaitan dengan fakta, konsep, dan

Persiapan         : Ajukan pertanyaan pada siswa, apakah mereka pernah

                          istilah fakta, konsep, dan generalisasi. Bila pernah diminta

                          salah seorang mengemukakan pendapatnya tentang arti

                          dari fakta, konsep, dan generalisasi itu.

Penyajian         : Tampilkan di papan tulis selembar kertas manila (chart)

 yang telah disiapkan pada kertas tersebut. Tuliskan penjelasan tentang arti fakta, konsep, dan generalisasi serta contoh-contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Penjelasan yang diberikan dapat dikutip dari buku-buku sumber dan kemukakan contohnya yang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa usia Sekolah Dasar. Jelaskan pula bagaimana peranan dan kedudukan fakta, konsep, dan generalisasi ini dalam struktur ilmu pengetahuan termasuk IPS dan bagaiana keterkaitan dari ketiga istikah tersebut.

Pengertian Fakta, Konsep, dan Generalisasi

            Fakta adalah suatu informasi atau data yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan dikumpulkan oleh para ahli ilmu sosial untuk menjamin kebenarannya serta memiliki kemampuan yang berbatas untuk menjelaskan sesuatu, contohnya; angin berhembus, matahari terbit dari sebelah timur, Jakarta adalah ibu kota negara Indonesia.

            Konsep adalah penamaan (pemberian label) terhadap sesuatu untuk membantu manusia mengenal dan memahami sesuatu tersebut. Pendapat lain mengemukakan bahwa konsep itu merupakan kesepakatan bersama untuk penamaan sesuatu sebagai alat berpikir dan memecahkan masalah. Sedangkan S. Hamid Hasan mengemukakan bahwa: “Konsep itu adalah mengabstraksikan sekelompok benda yang memiliki karakteristik sama”.

            Konsep ada berupa benda konkrit, seperti; manusia, meja, kursi, pulau, lautan dan daratan. Sementara yang abstrak adalah; demokrasi, kejujuran, kesetiaan, kebudayaan, kemerdekaan, dan lain-lain.

            Generalisasi adalah sejumlah konsnep yang memiliki keterkaitan dan makna atau pernyataan tentang hubungan diantara konsep, contohnya; ketika masyarakat Indonesia menjadi masyarakat terdidik dan industri, angka kelahiran pun menurun.

            Setelah membaca penjelasan di atas, ajukan pula pertanyaan-pertanyaan berikut kepada siswa:

(1)   Bagaimana kedudukan dan peranan fakta, konsep, dan generalisasi terhadapa struktur ilmu pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan Sosial?

(2)   Bagaina hubungan atau keterkaitan antara ketiga istilah tersebut?

(3)   Dan apa pula perbedaan antara ketiga istilah tersebut?

(4)   Mengapa seorang calon ilmuan dan ilmu pengetahuan sosial harus memiliki pengetahuan tentang fakta, konsep, dan generalisasi dalam ranggka membuat suatu teori-teori?

(5)   Apa yang hendak Anda lakukan ketika Anda membuat generalisasi yang keliru?

Penutup           : Ajukan kepada kelas “apakah yang telah kita pelajari hari?

Mengapa materi tersebut penting untuk dipelajari?”

            Setelah siswa memahami secara definitif ketiga istilah tersebut, mereka harus dapat mengemukakan contoh-contohnya dalam kehidupan sehari-hari sekaligus harus dapat membedakan ketiganya.

            Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang fakta, konsep, dan generalisasi maka para siswa perlu memahami kata-kata kunci berikut ini:

            Informasi, data kehidupan, kesepakatan, pemahaman, label, makna, keterkaitan, pemecahan masalah, konkrit, abstrak, intelektual, berpikir.

            Setelah siswa memahami kata-kata kunci tersebut, guru menyuruh siswa mengisi titik-titik pada kolom label di bawah ini.

            Isilah kolom titik pada tabel di bawah ini dengan kata-kata; fakta, konsep, dan generalisasi.

Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945

Meja, kursi, rumah, gunung.

Demokrasi, kejujuran, kebudayaan, dan kemerdekaan

Matahari terbit dari sebelah timur

Angin darat berhembus pada malam hari

Makin banyak jumlah penduduk, makin meningkat angka pengangguran

            Apabila siswa telah mengerjakan soal di atas dengan jalan mengisi titik-titik yang telah disediakan, selanjutnya siswa disuruh mengikuti penjelasan berikut ini.

            Dalam membelajarkan materi tentang fakta, konsep, dan generalisasi dapat menggunakan strategi metode, pendekatan, media dan evaluasi sebagai berikut:

Untuk materi initepat sekali menggunakan strategi pemberiancontoh dan ilustrasi kepada kelompok maupun kepada individu, agar siswa lebih cepat memahami tentang apa itu fakta, konsep dan generalisasi.

Metode yang digunakan dapat disesuaikan dengan kondidi siswa agar materi dapat diterima oleh siswa dan tidak membosankan, yang penting efektif dan efisien.

Dapat menggunakan kertas manila karton yang bertuliskan materi pelajaran tentang fakta, konsep, dan generalisasi serta masing-masing contohnya.

Dapat menggunakan beberapa item tes yang disusun guru dan dilaksanakan secara tertulis setelah proses pembelajaran selesai (tes akhir).



Dari penjelasan di atas, dapat di ambil beberapa kesimpulan. Yaitu:

1.      Fakta adalah suatu informasi atau data yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan dikumpulkan oleh para ahli ilmu sosial untuk menjamin kebenarannya serta memiliki kemampuan yang berbatas untuk menjelaskan sesuatu. Konsep adalah penamaan (pemberian label) terhadap sesuatu untuk membantu manusia mengenal dan memahami sesuatu tersebut. Sedangkan generalisasi adalah sejumlah konsnep yang memiliki keterkaitan dan makna atau pernyataan tentang hubungan diantara konsep.

2.      Fakta, konsep, dan generalisasi memiliki keterkaitan antara satu sama lain dan tidak dapat dipisah untuk membentuk suatu teori dalam ilmu pengetahuan.

3.      Dalam membelajarkan materi tentang fakta, konsep, dan generalisasi dapat menggunakan strategi metode, pendekatan, media dan evaluasi sebagai berikut:

Untuk materi ini tepat sekali menggunakan strategi pemberiancontoh dan ilustrasi kepada kelompok maupun kepada individu, agar siswa lebih cepat memahami tentang apa itu fakta, konsep dan generalisasi.

Metode yang digunakan dapat disesuaikan dengan kondidi siswa agar materi dapat diterima oleh siswa dan tidak membosankan, yang penting efektif dan efisien.

Dapat menggunakan kertas manila karton yang bertuliskan materi pelajaran tentang fakta, konsep, dan generalisasi serta masing-masing contohnya.

Dapat menggunakan beberapa item tes yang disusun guru dan dilaksanakan secara tertulis setelah proses pembelajaran selesai (tes akhir).

Sebagai seorang pendidik, sudah seharusnya kita dapat memahami fakta, konsep, dan generalisasi dengan baik. Agar pengajaran IPS dapat berjalan dengan lancar.



Fakih Samlawi dan Bunyamin Maftuh. 1998/1999. Konsep Dasar IPS. Jakarta: Dekdikbud. Ditjen. Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Savage, V.T. dan Armstrong, G.D. (1996). Effective Teaching in Elementary Social Studies. (Third Edition). Englewood Cliffs, New Yersey: Prentice-Hall, Inc.

Skeel, Dorothy J. (1995), Elementery Sosial Studies: Challenges for Tomorrow’s World. Orlando, Florida : Harcourt Brace & Company.


BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang      Abad Informasi seperti sekaran ini menghendaki manusia, lembaga bahkan Negara dapat memiliki informasi sebagai alat untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memperoleh informasi tersebut diperlukan upaya tertentu sesuai dengan tingkat dan derajad manfaat dari informasi yang ingin diperoleh. Salah satu upaya untuk memperoleh informasi itu adalah dengan mencarinya pada sumber-sumber informasi, baik melalui media elektronika seperti televise, radio, internet, maupun media cetak seperti buku, bulletin, majalah, surat kabar, dll. Disamping itu diperlukan upaya menggali informasi itu dari individu atau masyarakat sekitar. Untuk memperoleh informasi yang lengkap dan akurat dari individu dan masyarakat diperlukan suatu keterampilan tertentu yang berhubungan dengan cara memilih, menyusun, menggunakan pertaanyaan, memperoleh, menganalisis menyajikan dan memanfaatkan informasi. Bagi seorang guru,

BAB I PENDAHULUAN A.        Latar Belakang Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manuia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Disisi lain proses perkembangan dan pendidikan manusia tidak hanya terjadi dan dipengaruhi oleh proses pendidikan yang ada dalam sistem pendidikan formal ( sekolah ) saja. Manusia selama hidupnya selalu akan mendapat pengaruh dari keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Ketiga lingkungan itu sering disebut sebagai tripusat pendidikan. Dengan kata lain proses perkembangan pendidikan manusia untuk mencapai hasil yang maksimal tidak hanya tergantung tentang bagaimana sistem pendidikan formal dijalankan. Namun juga tergantung pada lingkungan pendidikan yang berada diluar lingkungan formal. B.        Rumusan Masalah 1.       Apa pengertian Lingkungan Pendidikan ? 2.       Apa saja Jenis-jenis Lingkungan Pendidikan ( Tripusat Pendidikan ) ? 3.       Apa saja Fung